Penanganan Diapers Bekas Pakai, Tanggung Jawab Produsen atau effek Cultural Leg ?

file:///F:/My%20Own/Master%20Data_foto_SOP/Foto%20dan%20Logo/Blog&Vlog/ips-sosiologi-6-728.webp

Masyarakat di Indonesia telah terbiasa dengan pola hidup yang serba Instant dan cepat dan kadang tanpa disertai dengan pemahaman yang cukup atas perubahan yang ada tersebut, jadi ada ketertinggalan perilaku yang seharusnya menyertai perubahan tersebut karena rasa enggan meninggalkan kebiasaan lama,

Saat memasuki awal thun 2000 penggunaan Popok Bayi sekali pakai adalah masih tergolong barang mewah karena masih sedikit produk dan ukuran yang tersedia di pasar akibatnya hanya sedikit orang tua bayi yang mengaplikasikan popok bayi dan saat itu penggunaannya masih terbatas saat Bayi akan berpegian saja belum di gunakan secara keseharian, dan belum meluas ke usia Bawah Tiga Tahun (Batita).

Penggunaan keseharian untuk bayi masih mengandalkan popok kain yang dapat dicuci ulang, bahkan untuk mencegah bayi atau batita ngompol maka orang tua mulai membiasakan pola buang air kecil dan buang air besar secara terjadual,

Namun jaman cepat berubah, dimulai dengan media film terutama di TV dan VCD / DVD yang marak dipasaran yang banyak memberikan gmbaran begitu mudahnya membuat bayi dan batita Tenang dan "bersih"  tanpa membuat repot orang tua dengan menggunakan produk Popok/Diapers sekali pakai,

Bersamaan dengan gempurann media, mulailah di awal setelah Tahun 2000 berkembang produk Popok Sekali Pakai dengan pemain  produk lokal aseli negara kita, dan ditambah dengan masive nya produk yang disediakan mulai dari aneka ukuran seperti baru lahir (new Born) sampai dengan ukuran XXL, dengan kemasan mulai ber isi dibawah 10 pcs sehingga memberikan kesan produk tersebut murah harganya dibanding dengan manfaat dan kenyamanan bagi bayi dan terutama orang tua nya,

Disinalah masalah utama terjadi, karena baik di media film yang ditonton tidak ada adegan bagimana menindaklanjuti atas popok sekali pakai yang telah dipergunakan, bagaimana cara membersihkan dan mengemasnya, kemana di buang dan seterusnya,

Masalah semakin memuncak saat kemasan popok sekali pakai dengan segala ukuran dan type tersebut dijual dalam ukuran renceng alias ber isi 1 pcs saja, sehingga penjualannya dapat menembus sampai kalangan yang paling abai dengan urusan penangan sampah,



Setelah masalah ini menjdi problem, masing masing pihak saling tunjuk sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas biaya dari penanganan sampah produk tersebut, maka alangkah indahnya jika Pemerintah melalui BPOM dan Dep KLHK membuat suatu aturan seperti:

1. Pemerintah melalui BPOM mewajibkan produsen dalam kemasannya mencantumkan dengan jelas tata laksana penanganan produk pasca pemakaian, sehingga untuk pengguna awam pun akan mudah mengikutinya

2. Serta Produsen di wajibkan membuat adventorial di media baik mainstream maupun online yang diputar saat acara dengan jumlah penonton tertinggi, mengenai tata cara penanganan Popok bekas sekali pakai yang benar serta akibat akibat negative jika customer asal buang saja ke sungai

3. Pemerintah melalui BPOM seperti produk rokok mewajibkan perusahaan untuk mencantumkan gambar dan keterangan ringkas atas penanganan produk bekas yang sembarangan, Misalnya, Popok Bekas pakai kotor, meyebabkan penyakit menular jika dibuang sembarangan....

4. Pemerintah mengupayakan dana penangananan popok bekas dari lingkungan yang diperoleh dari presentase penjualan Popok sekali pakai yang beredar di pasaran, tentunya dengan mekanisme yang transparan, sehingga dapat membuat produsen juga terlibat aktive dalam penanganan limbah popok bekas sekali pakai tersebut,

Jika minimal ke 4 point tersebut dilaksanakan, maka tumpukkan sampah popok sekali pakai dapat mulai teruai dengan baik,

Ayo, kapan kita mulai bergerak dan berubah menuju hal yang baik


 


Comments

Popular posts from this blog

PERAN DISTRIBUTOR INDONESIA DALAM PASAR BEBAS ASEAN 2015 - Bagaimana Jika Kontribusi Sales Distributor besar dari Modern Trade?

Distributor Issue: Service Level Order Customer ke

Service Level ke Setiap Pelanggan mengapa sangat Penting?